News
10, Oct 2019 06:59 PM
News
7, Jul 2019 08:22 AM
News
10, Oct 2019 08:35 AM
News
9, Sep 2019 04:36 AM

Mengenal Suku Baduy Banten

Mengenal suku baduy

Posted  9 Dilihat updated 13 hari lalu

Aftanews- Indonesia memang tidak ada habisnya. Kebudayaan Indonesia memang beragam, hal ini dikarenakan Indonesia memiliki lebih dari seribu suku bangsa. Suku-suku tersebut tersebar dari Sabang hingga Marauke. 

Salah satu suku yang terkenal adalah Suku Baduy Dalam yang terletak di daerah Banten, tepatnya Kabupaten Lebak Banten. Nama Baduy Dalam berawal  dari sebutan yang diberikan oleh para peneliti Belanda yang agaknya mempersamakan masyarakat yang hidup secara nomaden tersebut dengan kelompok masyarakat Arab “Badawi”.

Kemungkinan lain adalah karena di wilayah bagian utara suku ini terdapat sungai yang disebut sungai Baduy Dalam. Sementara mereka sendiri lebih suku menyebut diri sebagai “orang kenekeas” sesuai dengan nama wilayah mereka. Terdapat dua versi yang berbeda mengenai asal usul suku baduy.

Menurut kepercayaan yang mereka anut, orang kenekeas adalah keturunan Batara Cikal yang merupakan salah satu dewa atau batara yang turun ke bumi. Asal usul tersebut juga sering dikait-kaitkan dengan Nabi Adam sebagai nenek moyang pertama manusia. 

Tidak heran jika banyak wisatawan yang berkunjung ke perkampungan suku Baduy. Nah, sebelum anda berkunjung ke perkampungan suku Baduy,  Berikut 7 fakta unik suku Baduy yang wajib anda ketahui:

1. Pu’un

Setiap kelompok memiliki pimpinan atau tokoh yang menjadi panutan dalam mengambil  petunjuk  dan keputusan terhadap permasalahan sosial di masyarakat tersebut. Begitu juga dengan masyarakat Baduy Dalam, tokoh masyarakat di suku Baduy Dalam disebut dengan Pu’un.

Pu’un dalam masyarakat Baduy berfungsi sebagai pemimpin di masyarakat tersebut, sosok Pu’un  sangat dihormati oleh  Suku Dalam. Puún dianggap layaknya seorang president oleh masyarakat  Suku Baduy Dalam .Pu’un  yang bertugas menentukan masa tanam dan masa panen, dia juga yang menerapkan hukum adat dalam masyarakat Baduy, ia juga yang mengobati penduduk yang sakit. 

2. Budaya gotong royong 

Gotong royong memang merupakan budaya Indonesia. Hampir seluruh daerah di Indonesia memiliki budaya gotong royong. Namun, seiring dengan perkembangan teknologi, budaya gotong royong ini sudah mulai ditinggalkan oleh masyarakat Indonesia.

Berbeda dengan kebanyakan masyarakat di daerah lain di Indonesia yang sudah banyak meninggalkan budaya gotong royong , masyarakat badui masih memegang teguh semangat bergotong royong.Mereka  biasanya bergotong royong saat berpindah lahan pertanian ke tempat yang lebih subur.

3. Kekayaan Tidak Dilihat Dari Bentuk Rumah

Berbeda dengan masyarakat modern yang hidup di perkotaan yang umumnya kekayaan ditunjukkan dengan rumah yang besar dan mewah.  Suku baduy Baduy Dalam Dalam yang kaya tidak akan memiliki rumah yang besar dan mewah, karena seluruh penduduk di perkampungan Baduy Dalam memiliki besar dan bentuk rumah yang sama. Kekayaan orang Baduy Dalam justru dilihat dari kepemilikan benda lain, seperti tembikar.

Yang membedakan masyarakat yang kaya di  Suku  Baduy Dalam adalah kepemilikan tembikar yang terbuat dari kuningan. Bagi orang Baduy Dalam yang kaya dapat memiliki beberapa tembikar.Semakin banyak jumlah tembikar  Suku Baduy  Dalam, semakin tinggi derajat orang tersebut.

4. Peralatan Mandi dari Alam

Jika anda berkunjung ke perkampungan suku Baduy Dalam, jangan harap anda akan menemukan ada masyarakat yang menggunakan sabun, shampo atau pasta gigi saat mandi. Masyarakat lebih memilih menggunakan bahan-bahan yang tersedia di alam untuk membersihkan diri mereka. 

Orang Baduy Dalam menggunakan batu yang kemudian di gosok-gosokan ke tubuh mereka sebagai pengganti sabun mandi yang berbahan kimia. Sementara, untuk membersihkan gigi, mereka menggunakan serabut kelapa. Suku Baduy Dalam memang sangat menghargai alam mereka, mereka tidak ingin menggunakan peralatan yang mengandung bahan kimia dan sampah plastik. 

5. Masih Berlakunya Perjodohan

Perjodohan memang sudah tidak lazim bagi masyarakat modern. Dalam kehidupan masyarakat modern, urusan jodoh memang diserahkan sepenuhnya kepada sang anak, orang tua hanya memberi restu. Namun, hal itu tidak berlaku bagi  Suku baduy Baduy Dalam Dalam.

Seorang gadis yang berusia 14 tahun akan dijodohkan dengan laki-laki yang berasal dari suku Baduy Dalam .Selama proses perjodohan orang tua laki-laki bebas memilih wanita yang ingin dijodohkan  dengan anaknya. Namun, jika belum ada yang cocok, laki-laki maupun perempuan harus rela menerima pilihan orang tuanya atau pilihan Pu’un. 

Sebagai negara yang kaya akan seni dan budaya, Indonesia dihuni berbagai macam suku yang menetap di segala pelosok nusantara. Kearifan lokal serta adat istiadatnya menjaga kelestarian alam Indonesia hingga mampu terjaga dengan baik dan bersinergi dengan alam. Nama Baduy terlesip diantara banyaknya suku yang ada di Indonesia. Kelompok etnis Sunda ini hidup bersama alam di Pegunungan Kendeng, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten.

Suku Baduy terbagi dalam dua golongan yang disebut dengan Baduy Dalam dan Baduy Luar. Perbedaan yang paling mendasar dari kedua suku ini adalah dalam menjalankan pikukuh atau aturan adat saat pelaksanaannya. Jika Baduy Dalam masih memegang teguh adat dan menjalankan aturan adat dengan baik, sebaliknya tidak dengan saudaranya Baduy Luar.

Masyarakat Baduy Luar sudah terkontaminasi dengan budaya luar selain Baduy. Penggunaan barang elektronik dan sabun diperkenankan ketua adat yang di sebut Jaro untuk menopang aktivitas dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Selain itu, Baduy Luar juga menerima tamu yang berasal dari luar Indonesia, mereka diperbolehkan mengunjungi hingga menginap di salah satu rumah warga Baduy Luar.

Perbedaan lainnya terlihat dari cara berpakaian yang dikenakan. Pakaian adat atau baju dalam keseharian Baduy Luar tersirat dalam balutan warna putih yang mendominasi, kadang hanya bagian celananya saja bewarna hitam ataupun biru tua.

Warna putih melambangkan kesucian dan budaya yang tidak terpengaruh dari luar. Beda dengan Baduy Luar yang menggunakan baju serba hitam atau biru tua saat melakukan aktivitas.

Baduy Dalam memiliki tiga kampung yang bertugas mengakomodir kebutuhan dasar yang di perlukan semua masyarakat Suku Baduy. Tugas ini dipimpin oleh Pu'un selaku ketua adat tertinggi dibantu dengan Jaro sebagai wakilnya. Kampung Cikeusik, Cikertawana, dan Cibeo adalah tiga kampung tempat Suku Baduy tinggal, sedangkan kelompok masyarakat Baduy Luar tinggal di 50 kampung lainnya yang berada di bukit-bukit Gunung Kendeng.

Sebutan Baduy merupakan pemberian dari peneliti Belanda yang melihat kemiripan masyarakat di sini dengan masyarakat Badawi atau Bedoin di Arab. Kemiripan ini karena dahulu, masyarakat di sini sering berpindah-pindah mencari tempat yang sempurna untuk mereka tinggali. Namun ada versi lain yang menyebutkan, nama Baduy adalah nama Sungai Cibaduy yang terletak di bagian utara Desa Kanekes.

Mata pencaharian mayarakat Suku Baduy umumnya berladang dan bertani. Alamnya yang subur dan berlimpah mempermudah suku ini dalam menghasilkan kebutuhan sehari-hari. Hasil berupa kopi, padi, dan umbi-umbian menjadi komoditas yang paling sering ditanam oleh masyarakat Baduy.

Namun dalam praktek berladang dan bertani, Suku Baduy tidak menggunakan kerbau atau sapi dalam mengolah lahan mereka. Hewan berkaki empat selain anjing sangat dilarang masuk ke Desa Kanekes demi menjaga kelestarian alam.

Proses kelestarian alam juga sangat berlaku saat membangun rumah adat mereka yang terbuat dari kayu dan bambu. Terlihat dari kontur tanah yang masih miring dan tidak digali demi menjaga alam yang sudah memberi mereka kehidupan.

Rumah-rumah di sini dibangun dengan batu kali sebagai dasar pondasi, karena itulah tiang-tiang penyangga rumah terlihat tidak sama tinggi dengan tiang lainnya.

Terdapat 3 ruangan dalam rumah adat Baduy dengan fungsinya yang masing-masing berbeda. Bagian depan difungsikan sebagai penerima tamu dan tempat menenun untuk kaum perempuan. Bagian tengah berfungsi untuk ruang keluarga dan tidur, dan ruangan ketiga yang terletak di bagian belakang digunakan untuk memasak dan tempat untuk menyimpan hasil ladang dan padi. Semua ruangan dilapisi dengan lantai yang terbuat dari anyaman bambu. Sedangkan pada bagian atap rumah, serat ijuk atau daun pohon kelapa. Rumah suku Baduy dibangun saling berhadap-hadapan dan selalu menghadap utara atau selatan. Faktor sinar matahari yang menyinari dan masuk ke dalam ruangan menjadi pemilihan mengapa rumah di sini dibangun hanya pada dua arah saja.


Emoticon Anda?

0
LOL
0
LOVED
0
PURE
0
AW
0
FUNNY
0
BAD!
0
EEW
0
OMG!
0
ANGRY
0 Komentar