Ini Bahaya Yang Harus Kamu Hindari Pada Saat Mendaki Gunung

Pendaki gunung

Posted  58 Views updated 2 months ago

Aftanews-  Aktifitas mendaki gunung akhir-akhir ini nampaknya bukan lagi merupakan suatu kegiatan yang langka, artinya tidak lagi hanya dilakukan oleh orang-orang tertentu (yang menamakan diri sebagai kelompok pencinta alam, penjelajah dan sebagainya). Melainkan telah dilakukan oleh orang-orang dari kalangan umum. Namun demikian bukanlah berarti kita bisa menganggap bahwa segala sesuatu yang berkaitan dengan aktifitas mendaki gunung, menjadi bidang keterampilan yang mudah dan tidak memiliki dasar pengetahuan teoritis. Di dalam pendakian suatu gunung banyak hal-hal yang harus kita ketahui termasuk beberapa jenis bahaya yang mungkin terjadi saat melakukan kegiatan di alam terbuka misalnya mendaki gunung.

Bahaya obyektif

Bahaya objektif adalah bahaya yang disebabkan oleh gunung atau lapangan/alam itu sendiri. Ada beberapa contoh bahaya objektif yang sering kita jumpai, diantaranya :

Kejatuhan Batu. Ada beberapa hal yang menyebabkan batu-batu berjatuhan diantaranya : Hembusan angin yang kuat, hujan, pijakan kaki pendaki yang kurang hati-hati, pijakan binatang, patahnya batu karang, dll.

Daerah-Daerah yang Berbahaya . Seperti jurang, tanah yang labil dll

Petir. Perlindungan yang terbaik dari sambaran petir ialah: mengurungkan untuk berjalan atau lebih awal pulang. Cuaca buruk jarang datang pada siang hari atau pada pagi hari. Pada waktu ada petir segera jongkok, duduk di atas tanah atau duduk diatas ransel atau tali yang sedang digulungkan dan menunggu sampai petir hilang. Tempat yang dihindari ketika petir : (1) Tempat-tempat yang menonjol seperti : puncak, tugu simbol puncak gunung, batu karang yang menonjol, sungai-sungai. Batu karang pada umumnya lebih berbahaya daripada salju. Pada cuaca buruk, segera tinggalkan tempat-tempat tersebut. (2) Dinding, goa. Ditakutkan runtuh oleh getaran dari petir tersebut.

Kabut. Kabut menimbulkan persoalan pada pandangan pendaki dalam melihat jalur, untuk itu pendaki perlu mencari keterangan tentang tempat yang akan didatangi. Untuk mempermudah sebaiknya membawa kompas peta dan bantuan cahaya.

Udara yang Mendadak menjadi Buruk. Keadaan udara yang mendadak menjadi buruk di pegunungan, harus mendapat perhatian yang serius. Dalam hal ini sangat diperlukan kesabaran, keberanian, kewaspadaan dan perasaan bertanggung jawab dari setiap pendaki gunung. Tanpa pertimbangan, begitu saja melakukan perjalanan, tidak lain hanya merupakan kebodohan saja.

Bahaya subyektif

Bahaya subjektif adalah bahaya yang disebabkan oleh orang yang mendaki gunung sendiri. Misalnya, badan pendaki melemah, kelelahan, pengetahuan dan pengalaman yang kurang, hypothermia, dll. Biasakan mengadakan evaluasi dan membuat laporan perjalanan dengan detail, sehingga perjalanan lebih bernilai dan mungkin di kemudian hari bisa digunakan sebagai referensi untuk kegiatan selanjutnya.

Outdoor activity atau kegiatan alam bebas merupakan kegiatan yang penuh resiko dan memerlukan perhitungan yang cermat. Jika salah-salah maka bukan mustahil musibah akan mengancam setiap saat. Tentu saja resiko tersebut terjadi apabila safety-procedure tidak menjadi perhatian yang serius, tetapi apabila safety-procedure diperhatikan dan sering berlatih, maka resiko tersebut dapat ditekan sampai titik paling aman. Perjalanan alam bebas pasti akan bersentuhan dengan cuaca, situasi medan dan waktu yang kadang tidak bersahabat, baik malam atau siang hari, oleh karena itu perlu dipersiapkan perlengkapan yang memadai. 

Terlepas dari banyaknya alasan seseorang untuk mendaki gunung, kita tidak boleh melupakan bahwa mendaki gunung merupakan aktivitas yang berat. Selain membutuhkan fisik dan mental yang kuat, mendaki gunung merupakan aktivitas alam yang berbahaya, mulai dari ancaman binatang buas, cidera, cuaca buruk, salah jalur/tersesat, dan hipotermia.

Beberapa bulan terakhir kita dikejutkan dengan berita pendaki yang hilang dan meninggal di atas gunung. Kasus-kasus ini seharusnya menjadi perhatian kita bersama. Banyak faktor yang menyebabkan seseorang hilang atau meninggal di atas gunung. Salah satunya adalah kurangnya persiapan dan pengetahuan tentang pendakian gunung. 

Faktor Penyebab Hipotermia

Hipotermia yang dialami seseorang yang sedang mendaki gunung disebabkan beberapa faktor, diantaranya: faktor cuaca; angin kencang, hujan, badai dan beberapa faktor lainya seperti  kurangnya paparan sinar matahari, kondisi fisik pendaki yang lemah, suhu lingkungan  yang lebih rendah, kelembapan, kurang lengkanya peralatan pendakian, pakaian yang basah dan minimnya pengetahuan pendaki mengenai hipotermia serta cara mengatasinya. 

Pada tanggal 1 Januari seorang mahasiswi UPN terkena hipotermia di gunung Slamet, masih di tanggal yang sama seorang pendaki asal Makasar juga terkena hipotermia di gunung Semeru dan kasus yang terbaru adalah pada hari Minggu 3 Maret kita dikejutkan dengan kasus 3 orang pendaki yang meninggal di Gunung Tampomas, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. 

Pendaki yang berusia remaja antara 13-15 tahun itu diduga meninggal karena hipotermia. Dari kasus di atas dan masih banyak kasus hipotermia lainya, apalagi kasus tiga remaja yang diduga meninggal karena hipotermia ini dapat menjadi perhatian kita bersama, bahwa hipotermia merupakan kasus yang berbahaya. Untuk mengantisipasi terkena hipotermia saat mendaki gunung, kita harus memahami cara mencegah dan mengatasinya.

Apa itu Hipotermia?

Hipotermi atau hypothermia adalah kondisi tubuh yang tidak normal atau suatu keadaan dimana  kondisi  tubuh mengalami penuruan atau kehilangan suhu panas sehingga menyebabkan temperatur tubuh menurun drastis, suhu tubuh seseorang yang mengalami hipotermi adalah dibawah 35C.  Hipotermi terjadi karena suhu tubuh kesulitan untuk mengatasi suhu dingin disekitarnya, kasus hipotermi ini sangat berbahaya, jika tidak segera ditangani maka akan menyebabkan kematian.


Your reaction?

0
LOL
0
LOVED
0
PURE
0
AW
0
FUNNY
0
BAD!
0
EEW
0
OMG!
0
ANGRY
0 Comments